Rajinlah Belajar

     Esok sudah ulangan akhir semester, aku lupa akan hal itu,sehingga aku belum belajar ,meskipun sebelumnya sudah diberikan surat pemberitahuan jadwal ulangannya, aku lupa untuk memajangnya di tembok sebagai alarm pengingat jadwal pelajaran yang diuji. Aku biasanya mendapat nilai sedikit lebih tinggi diatas KKM selama aku bersekolah,namun karena tak ingin rekor ini di kalahkan,ataupun dimarahin oleh orang tuaku, Akhirnya akupun menerapkan Sistim  Kebut Semalam(SKS), sama seperti pelajar lainnya, Setiap orang yang menerapkan SKS selalu datang dengan hormat tiang bendera dibawah teriknya matahari yang bersinar ataupun membersihkan WC yang baunya tercium sejauh    3 kelas ataupun berdiri didepan pagar sekolah dan berteriak dibukakan kuncinya  seperti tawanan yang belum diberi makan selama 3 hari, dengan kata lain Kesiangan.
Akupun berlari dari rumahku kesekolah yang berjarak sekitar 300 meter. Tetapi untungnya hanya kurang 10 menit sebelum gerbang ditutup aku datang kesekolah,”Fuhh…” lega rasanya.

     Tapi apalah gunanya datang  tepat  waktu jika saat ulangan aku hanya bisa menatap soal sambil berharap Tim SAR datang untuk membantu mencari jawaban yang hilang dari kertasnya. Akhirnya mencontekpun menjadi solusi utama bagi setiap pelajar. Untungnya  saat itu aku ulangan dengan dijaga oleh pengawas yang ramah tamah seperti mamah yang selalu berkemah, yaitu guru olah ragaku. Ia memang dikenal baik bagi kalangan siswa yang sering mencontek karena hobi, sebab guru ini kadang memberitahu apa yang dia tahu,ataupun hanya mengajak ngobrol siswa yang sedang ulangan sehingga membuat kelas ricuh layaknya pembokaran lahan warga tanpa surat pemberitahuan dulu sebelumnya, dan akhirnya ini membuat kesempatan bagi para pencontek untuk beraksi.

     Meskipun kesempatan untuk mencontek terbuka lebar, tapi aku sama sekali tidak bisa mencontek karena posisinya kurang strategis dan aku yang jarang mencontek jarak jauh. Waktu itu posisi ku didepan dekat pintu,dan teman yang ada disekitarku enggan memberikan jawaban padaku, dengan kata lain Pelit, sehingga membuat aku menggunakan trik cap cip cup alias ngasal. Bermodalkan SKS yang kuterapkan tadi malam,aku dengan cepat membaca soal dan mengisi jawaban sesuai hati nurani seperti pemilihan umum, lalu kemudian mencelupkan jari kelingking ke botol tinta, entah siapa yang menciptakan ide jari kelingking itu, tapi yang jelas ulangan kali ini berjalan  lancar ”yess..”, meskipun jawabannya tidak menentu seperti hujan di awal tahun ini.

     Hari-hari lainya berjalan seperti biasa kecuali saat pelajaran yang menjadi mimpi buruk bagi seluruh siswa  yang membangunkan tidur ketika malam hari, lalu beranjak dari tempat tidur dan bolak balik membuka kulkas dengan harapan menemukan makanan,meskipun sudah tahu tidak ada makanan disana. Yaitu Matematika. Matematika menjadi pelajaran yang sulit karena banyaknya rumus yang harus dihafalkan, belum lagi ada beberapa rumus yang mirip sehingga mengecohkan para siswa yang sudah dikenal akan kepintarannya sekalipun. Ditambah lagi saat itu pengawasnya dikenal akan keganasan dan keliarannya dalam mengawas ujian dan bahkan telah diberi sertifikat oleh pemerintah setempat, dan ditanda tangani oleh seluruh siswa sekolah dengan tinta yang bocor ke tangan. Akhirnya akupun hanya terdiam kembali sambil melihat tumpukan angka diatas kertas dan kembali lagi berharap Tim SAR akan segera menemukan jawaban yang hilang dari kertasnya.

     Ujian berlalu,sekolahpun mengadakan acara untuk mengulur benang layangan waktu hingga hari libur. Lomba-lomba menarik hadir untuk melepaskan beban yang ada pada seluruh siswa, atau dengan kata lain membuat siswa lupa akan nilainya yang jelek, sehingga membuat para siswa tidak bisa ngeles layaknya bajaj pada orang tuanya, entah siapa yang membuat istilah ngeles kaya bajaj,mungkin karena dulu bajaj suka ngeles kali. Dan ya… acara ini benar-benar membuatku lupa apa akan jasa Tim Sar yang telah membantuku mencari jawaban yang hilang dari kertasnya, aku bangga jadi anak Indonesia karena memiliki kelompok penyelamat yang sangat hebat.

     Saat pengambilan rapot disekolah, ibuku hanya melakukan apa yang dia lakukan dan tidak memarahiku, namun aku sudah mengira bahwa nanti dirumah aku pasti akan dimarahi oleh ibuku hingga pipi merah, HP disita 1 Semester dan TV yang menghilang dari  tempatnya berada. Namun perkiraanku salah, ternyata pahaku yang biru,HP ku disita 2 Semester dan ternyata TV nya tidak menghilang, tetapi berubah menjadi tas baru buat ibuku.

Karena aku ingin mendapatkan perhatian ibuku kembali HP dan TV ku kembali , aku mulai meninggalkan SKS dan mulai belajar seperti biasa. Kutunggu 1 bulan… 2 bulan… Ulangan tengah semester, akhrinya HP ku kembali sebelum 2 Semester namun tidak dengan TV ku yang antenanya perlu diganti karena sudah mulai menghasilkan banyak semut pada layar TV. Melihat kejadian ini akupun mulai menambah dosis belajarku agar TV ku kembali, hingga akhirnya TV ku kembali. Namun sayang, TV ku datang saat beberapa minggu sebelum ulangan berlangsung lagi. Tak ingin Harta berhargaku dirampas kembali aku pun tak ingin menggunakan SKS lagi dan hormat tiang bendera di waktu pagi,sehingga aku mulai berusaha agar nilai ku kembali dan tidak pergi lagi seperti bang toyib yang tak pulang-pulang dan tak pasti kapan dia datang.

Ini cuma karangan, bukan kisah asli gue. Jadi kalo lagi pelajaran Bahasa Indonesia lagi disuruh ngarang, ya ngarang… malah mikir. Giliran Mtk disuruh mikir malah ngarang :v.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x