Belajar tentang wordpress, domain, dan hosting itu ternyata makan waktu lebih lama dari yang gue kira wkwk, gak nyangka sampe harus bolong satu bulan di tantangan yang gue buat sendiri (Postingan Terkait), tapi gak apa-apa, gue akan menyimpan cerita tentang domain baru ini nanti (kita akan migrasi ke rizkyindra.my.id guys yuhuu), untuk sekarang ada suatu hal yang ingin gue curhatkan.
Kali ini tentang sesuatu yang berhubungan dengan menemukan tempat kita di… hmm… dunia? Baiklah kita sebut saja dunia. Jadi ini adalah kisah gue dengan Bahasa, yap! Kalo kalian mikir ini tentang bahasa Inggris, tepat sekali, karena belum lama ini gue mengalami suatu kejadian yang membuat gue berpikir kembali, kenapa sih gue jadi multilingual? (meskipun gak 100% fasih di semuanya).
Ada yang bertanya, pertanyaannya singkat, hanya menanyakan gimana sih caranya bisa lancar bahasa inggris. Pertanyaannya bukan di tujukan untuk gue, gue memperhatikan mereka aja, dan orang yang di tanya membalas, bahwa dia lancar karena memang ada kelas tambahan bahasa inggris, ada yang mengajarkannya, itu pun makin kuat pengaruhnya karena sudah sejak kecil, dan juga yang membuat dia makin lancar berbahasa inggris adalah karena sejak kecil, konsumsi bahasa inggrisnya tinggi, untuk menonton hiburan di televisi, dia baca subtitle bahasa inggris, yang mana malah membuat dia terbiasa meluaskan kosa kata, sampe contoh penggunaannya bisa di pahami sambil berjalan, dengan entusiasmenya menikmati acara tersebut, dan banyak lagi sih yang bikin konsumsi bahasa inggrisnya dalam sehari-hari tinggi, tapi itu gue kasih salah satunya aja ya.
Ya, gue setuju untuk dilakukan pembiasaan, karena gue sendiri, bukan orang yang lancar bahasa inggris sejak kecil, gue gak ada kelas tambahan bahkan di lingkungan gue gak ada yang memerlukan kemampuan bahasa inggris yangn membuat gue sebenernya gak perlu-perlu banget bisa fasih, tapi satu hal yang gue sadari, gue itu gak pernah kesulitan dalam mengucapkan kata-kata bahasa Inggris, tau gak momen di mana ada teks bahasa inggris, atau kata-kata bahasa inggris, dan di suruh baca, nah gue gak pernah kesulitan sekalipun, temen-temen gue pada bacanya… hm.. apa ya sebutannya? ‘indo banget’? kayak semisalnya kalo baca kata “Impossible” itu kan harusnya “imˈpäsəb(ə)l” (dari gugel translate btw wkwk), nah temen-temen gue itu banyak yang bacanya bener-bener dari lidah ‘indo’ totok gitu, “imposibele”, semacam itu, nah gue gak punya masalah itu, gue selalu bisa baca kata-kata dalam bahasa inggris dengan benar, sekalipun salah, paling juga karena memang kata itu sendiri sulit (yang ini pernah inget, ada kata yang dulu gue anggap salah baca, ternyata memang orang-orang Inggris dan Amerika punya cara pengucapan yang beda), jadi orang native nya aja itu bisa belibet, dan gue sebenernya sama aja kayak mereka, sekedar itu aja.
Soal kelancaran ngomong, gue akui, sejak dulu gue gak lancar, baru belakangan ini aja gue mulai melatih aksen, itupun karena keperluan pekerjaan juga. Ada sebuah video tugas waktu sekolah dulu, dan bener aja, gue ngakak karena cara gue ngomong dulu itu kaku banget. Cara pengucapannya udah bener, tapi karena aksen gue kaku, itu berasa kayak bahasa inggris yang gak bener, tapi gue tau banget yang gue pikirkan waktu itu apa, karena tiap kali gue mau mencoba ngomong dalam bahasa inggris, kebanyakan mikir, dan akhirnya yang keluar dari mulut itu kaku banget, tapi gapapa, namanya proses.
Gue ikut menjawab pertanyaanya, gw dukung jawaban dia tentang pembiasaan menggunakan bahasa inggris yang akhirnya menjadikan kita itu lancar berbahasa inggris, tapi kan gue gak tau ya, ini orang nanya singkat banget gak ada tambahan, gak ada prequel, gak ada sequel, gak ada spinoff, pokoknya cuma nanya gimana supaya bisa lancar aja, gue gak tau dia butuh lancar untuk apa, gue gak tau motivasi dia apa, gue bahkan gak tau dia siapa (ini beneran, gue gatau dia siapa), nah karena hal itu juga gue meambahkan beberapa hal.
Pertama gue coba dukung dia dulu, karena kalo kalian punya motivasi untuk belajar bahasa itu bagus loh, menambah peluang komunikasi sama banyak banget orang, dan gue mau dukung itu. Gue ceritakan, bahwa belajar bahasa memang gak mudah, bahasa bagi gue bukan hal yang di pelajari, kemudian langsung bisa, enggak, bagi gue bahasa adalah tentang pembiasaan, kalo kita di biasakan, maka akan jadi kebiasaan nantinya, dan akhirnya secara gak sadar kita udah bisa ngobrol sama orang yang beda bahasa aja gitu, kan keren ya?.
Dulu gue juga agak gak suka nih sama sesuatu, apalagi dulu itu gue liat pas masih kecil, anaknya Deddy Corbuzier, iya yang pesulap, eh, penyulap (wkwk teringat permasalahan kata waktu itu), yang punya podcast itu sekarang, Azka, tau kan? Itu dulu gue sering liat dia kesusahan ngomong dalam bahasa indonesia, dulu gue merasa aneh, terus kok di lihat lama-lama makin gak enak aja gitu, ternyata pada suatu kesempatan, dia angkat bicara, kenapa Azka di biasain bahasa inggris sejak kecil, yang malah bikin dia paham gak paham sama bahasa indonesia. Di jelasin kalo dia ngajarin bahasa Inggris dulu itu karena bahasa Indonesia pasti akan terus ada di sekeliling Azka, tanpa di ajarin pun, lingkungannya yang akan membantu dia lancar karena dia tinggal di Indonesia.
And that’s quite cool. Setelah dapat penjelasan itu, gue tungguin dan sesekali memperhatikan tahun ke tahun, bener aja, Azka sekarang udah normal aja dalam berbahasa Indonesia. Jadi apa kesimpulannya? Pembiasaan, itu yang bikin gue yakin bahwa kebiasaan menggunakan bahasa atau terpapar bahasa terus menerus akan membuat kita lama-kelamaan bisa paham sama bahasanya.
Kemudian, kembali ke konteks awal, setelah jawaban singkat tentang bagaimana bisa lancar berbahasa inggris, gue sedikit curhat tentang susahnya belajar bahasa wkwk, parah ya gue?, orang dia cuma nanya, gue malah curhat, tapi ya… udahlah ya, namanya juga kebawa semangat.
Setelah itu, gue coba menerka sendiri, kenapa sih dia menanyakan itu? Apa dia bener-bener mau belajar? Nah gue coba menambah motivasi belajarnya, gue ceritakan bahwa bergabung sama komunitas publik di sosial media atau bisa berinteraksi dengan orang luar itu menyenangkan dan banyak keuntungannya, karena dengan menambah bahasa, itu artinya menambah peluang kesempatan untuk interaksi dengan lebih banyak orang lagi.
Udah cukup gue rasa tuh, tapi kan selalu sedia payung sebelum hujan ya? Nah gue terka kembali, kalo ini orang belajar bahasa karena terpaksa atau asal pilih atau gimana? Kalau gagal dan motivasinya kurang gimana? Gue kasih rencana cadangan buat dia kan tuh.
Gue ceritakan, kalo di Indonesia sendiri itu bahasanya bukan main banyaknya, bahasanya unik dan orang-orangnya punya keragaman masing-masing. Andaikan bener dia belajar bahasa inggris hanya karena ikut-ikutan atau sekurang-kurangnya bukan karena dia yang mau sendiri, gue mencoba menyadarkannya bahwa negara kita ini juga punya kekayaan bahasa, living in this beautiful country is such a honor, meskipun gak bisa bahasa inggris, bercengkrama dengan warga lokal dan berkelana atau menetap di dalam Nusantara itu bukan berarti kita menyempitkan daya jelajah, ribuan pulau dan ratusan kota siap menyambut kedatangan kita, terutama kalo kita bisa memahami bahasa mereka dan bahkan ngobrol langsung dengan bahasa lokal, kita tetep akan dapat kesempatan relasi yang luas juga.
Everyone has their role, setiap orang akan punya tempatnya masing-masing, roda gigi yang kecil bukan berarti gak berguna bagi jam untuk berdetik, roda gigi itu tidak seharusnya di bandingkan dengan ukuran, tapi di lihat kegunaannya, kita semua punya peran masing-masing, jalani, banyak orang lain dengan peran yang sama, temui mereka, bekerja samalah.
Bahasa memang kunci membuka jendela dunia, jika kita memilih bahasa yang berbeda, bukan berarti kita tidak dapat melihat pemandangan gunung dan hutan, kita hanya akan membuka jendela lain, menemukan pemandangan indah lainnnya, mungkin laut dan pulau-pulau pasir putih, atau mungkin sebuah padang rumput dengan kebun bunga yang luas, dan banyak lainnya.
Pemandangan puncak gunung mungkin indah, tapi tidak bagi orang yang lebih menyukai perairan, pemandangan laut mungkin terasa sejuk, tapi tidak bagi orang yang lebih menyukai tebing batu dengan air terjun yang tinggi. Kamu mungkin hebat dalam satu hal, mungkin juga tidak terlalu mengerti hal yang berkebalikan darimu.
Dengan itu gue rasa udah cukup, pertanyaannya terjawab, lalu sedikit curhat pengalaman serupa, serta kasih motivasi sampe ngasih rencana cadangan, walaupun hingga sekarang gue gak tau alasan dia butuh lancar berbahasa inggris, tapi hal tersebut gak gue tujukan untuk dia aja, siapapun yang melihat, siapapun yang baca, semoga termotivasi untuk menjadi multilingual, karena itu menyenangkan.
Ada sebuah jokes yang sudah berumur, “What do you call a person who speaks three languages? A trilingual. What do you call a person who speaks two languages? A bilingual. What do you call a person who speaks one language? An American.”, jokes yang berasal dari monoligualism, yang menyindir tentang orang-orang yang merasa tidak perlu memiliki bahasa kedua.
Momennya pas banget kemerdekaan kita, salah satu paragraf gue ngebahas tentang indahnya indonesia wkwk, gatau kenapa, padahal gak di rencanain, kebetulan aja pas banget momennya dan bahasannya nyambung. Keren lah.. wkwk.
Gambar dari wikipedia
.jpg)