Nilai Buku Dari Sampul

     Kali ini sekedar sharing aja pengalaman tentang salah satu kata-kata yang paling populer sejak lama, “Jangan nilai buku dari sampulnya”

     Dari awal gue tau kata-kata ini emang selalu terasa aneh, karena emang kebanyakan apa yang ada di kehidupan sehari-hari agak sulit untuk di nilai sekali lihat, meskipun emang kenyataannya banyak aja orang yang asal pukul rata suatu kelompok dari ciri khususnya. Sekarang ini gue akan sharing tentang kejadian sehari-hari yang berkaitan tentang nilai sampul suatu hal, gue lagi gak pengen bahas yang berat-berat, karena yang pengen gue bahas cuma tentang film-film atau buku-buku yang dulu pernah gue baca aja.

     Kejadian begini biasanya terjadi di sebuah serial, karena kalo film itu kan habis di tonton sekali duduk, sedangkan serial kan beda inti cerita gak mungkin selesai di episode pertama, nah berhubung di jaman ini ada yang namanya layanan berlangganan untuk menonton serial-serial mereka dari awal hingga tamat, mulailah banyak tanggapan terkait serial-serial yang ada. Mungkin ada yang bilang serial ini bagus, pas kita tonton ternyata biasa aja, ada yang bilang musim pertama serial ini bagus, ternyata musim berikutnya kurang menarik, ya… berbagai macam penilaian muncul karena kita bisa marathon serial apapun tanpa harus menunggu di televisi atau harus beli copy-an nya d jaman ini.

     Gue pun sering mengalami hal kayak gini, banyak yang saranin bahkan ramai di perbincangkan di media sosial terkait serial tertentu yang sedang naik daun, gue yang penasaran mencoba menontonnya, kenyataannya, 3 episode awal dari serial itu pun gak mampu menarik perhatian gue, bahkan penilaian awal pribadi terhadap serial ini membosankan, alur cerita terlalu datar, dan lain sebagainya yang membuat gue tidak tertarik sama serialnya, gue putuskan gak lanjut ngikutin serialnya, berselang dan berselang, media sosial emang terus menggoda, dengan semakin banyaknya orang yang membahas tentang serial tersebut dan membuat penasaran terutama meme-nya (hehe), apalagi gue tipe orang yang harus mengenali dulu siapa yang di lawan baru lah ikut dalam arus, selama ini gue udah menolak asal ceplas ceplos tentang sesuatu selama gue belum tau apa yang gue omongin, hal ini juga yang membuat gue ikut mencicipi drama Korea yang ramai di kalangan temen-temen wanita sebaya gue hanya demi bisa ngomong atau komentar tentang drakor aja (Itupun gak gue tonton serialnya sampe abis hehe) . Nah dari sana gue putuskan untuk paksa diri gue untuk nontonin serial ini sampe habis.

     Rupanya ini jadi serial pertama bergenre romansa dan drama yang gue suka, sejak dulu gue emang kurang suka dengan buku, sampe film yang bergenre drama, apalagi di tambah romansa. Entah kenapa alur cerita kebanyakan dari apapun yang bergenre tersebut selalu aja gak menarik perhatian gue sama sekali, gue udah mencoba memaksa nonton atau baca sampai tamat, gue pikir mungkin aja gue gak suka karena gak di tonton sampai habis, tapi kenyataannya sampai habis dan tau makna serta inti cerita itupun gak ada kesan yang berarti buat gue. Gue emang lebih prefer genre-genre fiksi ilmiah, gue suka dengan alur yang berandai-andai jikalau dunia kita seperti ini, seperti itu, dari mulai tema masa depan, perjalanan antariksa, pasca perang, bencana ilmiah, semua fiksi seperti itu selalu berhasil menarik minat gue. Mungkin itulah yang membuat gue tidak tertarik dengan romansa & drama, karena genre yang gue suka kebanyakan tidak memfokuskan hubungan antar dua tokoh, melainkan mengungkap dunia fiktif itu sendiri. Kalau di romansa menceritakan naik turunnya sebuah hubungan sepasang kekasih, di fiksi ilmiah mereka menceritakan bagaimana kehidupan para tokoh berubah karena suatu kejadian luar biasa.

     Ini adalah salah satu kesan yang gue dapat dari memaksa diri menonton serial romansa & drama, jujur gue merasakan kantuk. Padahal gue mengikuti ceritanya, memperhatikan tokoh ini tujuannya apa, rintangannya apa, tapi kesan yang gue dapat malah mengantuk, terjadi pada beberapa serial yang gue tonton. Tapi sesuai yang gue tulis di atas, ada satu serial romansa & drama yang akhirnya gue akui jadi serial favorit gue. Setelah banyak serial yang gagal menarik minat gue, akhirnya ada serial yang berhasil mengait perhatian gue. Dan dari sanalah, gue mulai menyadari kembali, untuk tidak menilai buku dari sampulnya.

     Ada banyak buku dan film di luar sana, di kelompokan dalam genre, namun bukan berarti pengelompokan itu menjadi acuan kita untuk pukul rata bahwa genre tersebut begini begitu. Ada sebuah kutipan terkenal, “Siapapun bisa menjadi penulis” artinya tidak ada syarat khusus untuk membuat sebuah cerita, yang juga memiliki arti bahwa semua cerita yang ada di luar sana, bisa saja dari berbagai orang dengan kalangan yang berbeda, yang sangat tidak mustahil untuk menemukan berbagai macam isi di dalamnya. Layaknya logam, tak selalu emas menjadi pilihan, terutama jika kau mencari logam yang kokoh, ada banyak logam di luar sana dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing, boleh lah kau katakan besi akan berkarat, tapi kau tak dapat berkata bahwa semua logam berkarat dengan cara yang sama. Jika kau menilai logam dari harganya, maka kau takkan mau mengambil besi yang ternyata berguna dalam kehidupan sehari-hari. Sampul memang di tujukan untuk menarik perhatian, tapi bukan berarti kita bisa menilai isi buku dari sampulnya.

Ilustrasi dari gugel

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x