Plastik Berbayar?

     Tertulis disini bahwa awal tahun 2016 sedang ramai berita di televisi mengabarkan tentang kebijakan kantong plastik berbayar, di masa itu kayaknya gue masih nonton televisi, mungkin ini juga sebabnya kenapa gue berkomentar dan menulis bahan ini di buku gue.

     Di saat itu bener-bener rame yang bahas tentang kantong plastik, acara-acara di televisi mulai ngangkat berita apapun tentang plastik, hampir “apapun” tentang plastik di tanyangkan. Mulai dari tanggapan masyarakat, selebriti, politikus tentang kebijakan kantong plastik berbayar, ngebahas pencemaran plastik, melirik negara lain tentang kebijakan serupa dan cara mengatasinya, mengundang ahli plastik (yang ini gue kurang tau kapan gue liat di berita, tapi di sini tertulis ada ahli plastik yang di datangkan ke acara televisi, gue juga bingung kenapa, entah ahli plastik atau pakar terkait, entahlah), membahas solusi alternatif lain plastik, proses pembuatan plastik, statistika pengguna plastik, dan sebagainya.

     Memang, di Ibu Kota kita harganya tidak semelonjak itu, hanya Rp. 500 saja, tapi karena kebijakan tiap daerah bisa berbeda, ada yang sampai Rp. 5000 perplastik, dan hal inilah yang di ungkit oleh media massa. Dan dari banyaknya yang bisa di bahas disana, terjadilah banyak acara televisi yang turut membahas hal yang sedang ramai ini. Berita-berita tentang penemuan plastik yang mudah terurai di alam atau biodegradable, mendaur ulang plastik, memanfaatkan plastik untuk tidak hanya sekali pakai, alat makan yang dapat di konsumsi, dan beberapa inovasi terkait plastik lainnya yang mungkin jarang di beritakan mulai satu per-satu naik namanya dan orang-orang mulai mencari tahu tentangnya.

     Apasih yang gue komentarin? Sebelumnya kita lihat dulu kebijakan plastik sekarang ini, kebayakan kampanye tidak menggunakan plastik sekali pakai udah tertanam di berbagai tempat, restoran, supermarket, mini market, dan tempat-tempat lain yang dulunya sangat umum menggunakan produk plastik sekali pakai sekarang sudah mulai banyak yang menggunakan alternatif lain, menawarkan kantong belanja contohnya, atau tidak memberikan alat makan, dan sebagainya.

     Dampaknya saat ini bisa di bilang lumayan, banyak yang mulai terbiasa membawa kantong belanja, alat makan, dan sedotan stainless steel juga sudah wajar di khalayak umum. Memang betul kebutuhan kita akan plastik itu bener-bener tinggi, fleksibel, murah, mudah di dapatkan bahannya, durabilitasnya, semua membuat kita terbantu di kehidupan sehari-hari yang akhirnya berdampak tidak semua penggunaan plastik dapat langsung di gantikan, penggunaan plastik masih tinggi sampai sekarang, tapi setidaknya kita sudah memulai perlahan untuk beranjak dari plastik.

     Nah, yang gue komentarin di masa itu cuma kualitas plastiknya aja sih, gak penting-penting amat sebenernya, dulu waktu plastik masih umum dan gratis, kadang kita bisa dapet plastik yang tebel dan bagus, sedangkan giliran udah berbayar malah di kasih plastik yang tipis dan bahkan ada yang akan terurai dengan sendiriya, ya kalo gitu mending beli kantong belanja sekalian, beli yang awet gitu sekalian, bisa dipake berkali-kali.

     Nah komentar kantong belanja ini baru di tambahkan setelah melihat kondisi sekarang ini, dulu komentar gue cuma protes kalo kantong plastik berbayar kok malah di kasih yang tipis dan terkadang yang kualitasnya sekali pakai, gue agak kasihan dengan yang dapet kebijakan kantong plastik berbayar, tapi di tempatnya harga yang di bebankan agar tidak menggunakan plastik malah tinggi, sebenernya trik yang bagus untuk mengurangi penggunaan kantong plastik, tapi karena di pikiran gue dulu itu begini, barang kualitas rendah di jual dengan harga tinggi, bukankah itu merusak harga pasar? Dan blablabla overthingking lainnya yang gue pikirkan dari berbagai sudut pandang yang akhirnya membuat gue berkomentar tentang harga kantong plastik yang tidak sesuai dengan barang.

     Pada akhirnya, kebijakan di buat karena suatu alasan, yang namanya peraturan, mungkin tidak bisa memuaskan segala pihak, tapi dengan adanya pembiasaan dan normalisasi lainnya, dampak dari peraturan tersebut akan melahirkan banyak hal baru. Tentu, akan ada pro kontra di awal dan mungkin masalah ini dan itu, tapi pada akhirnya dari sana tetap banyak yang lahir. Sedotan stainless steel yang mulai banyak di produksi menyesuaikan kebutuhan penggunanya dan akhirnya banyak variasi sedotan sekarang, kantong belanja dengan motif atau model-model unik menyesuaikan keinginan pelanggan yang membuat pengerajin kedapatan untung dari sana, orang-orang mulai ramai meneliti alternatif plastik dan banyak lainnya.

 

     Teringat sebuah video singkat tentang seseorang yang memberi makan kawanan burung dari balkon rumahnya, dan berkata bahwa para penontonnya banyak yang mengkomentari tentang burung apa yang dia beri makan “No, those are ravens, stop calling them crows” yang kemudian berikutnya dia mulai menyebut burung itu “Ravens” tapi penontonnya kembali mengkomentari “Hey, stop calling them ravens, they’re crows”. Dia masih tidak tahu apa jenis burung itu sebenarnya, tapi dari sana, dia menyadari bahwa dia tidak bisa membuat semua orang senang atau setuju dengan apa yang dia pilih, baik kiri atau kanan, keduanya akan tetap mendapatkan pro dan kontra. Begitulah yang terjadi pada peraturan, tidak semuanya bisa senang dengan apa yang di tetapkan, apapun peraturannya pasti akan mendapatkan pro dan kontra.

     Tapi di ending videonya sih dia bilang, “Yaudahlah daripada lo semua ribut, gue bikin sama rata gak seneng aja gimana? Sekarang mereka adalah ayam. Yo guys! Gue lagi ngasih makan ayam nih! Ayo ayo sini ayam! … Sempurna”

 

The Great Chiken Debate

Gambar nyomot gugel

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x