Resolusi

     Resolusi? Gue bukanlah tipe orang yang suka ikut-ikutan hal yang sedang ramai hanya karena hal itu sedang ramai dan tidak ingin ketinggalan kemudian share sana sini, hashtag sana sini, biasanya gue mengikuti sesuatu yang sedang ramai itu antara gue anggap ini seru dan bisa di lakukan untuk bercandaan sama temen atau ada sesuatu yang menarik yang gue dapat dari hal yang sedang ramai itu. Dan kali ini yang sedang ramai adalah resolusi awal tahun.

     Umumnya, resolusi awal tahun dibuat untuk tujuan menambah semangat kerja kita, semangat belajar, semangat menjalani sesuatu, atau mungkin mengejar target, atau lain-lain yang serupa. Gue pernah ikut membuat resolusi awal tahun, waktu itu tahun 2020, targetnya adalah bahwa gue tahun ini akan menerbitkan buku.

     Resolusi ini bukanlah sebuah resolusi yang asal gue pilih secara random, di saat itu gue sebenernya udah menulis sebuah draft cerita untuk novel (akan langsung gue akui disini kalo itu draft bener-bener ancur, bahkan rangkanya pun belum utuh tapi gue udah mulai nulis prolog cerita) yang sebenernya draft ini berdasarkan cerita yang pernah gue publish di Wattpad, bahkan di situs itu pun ceritanya masih belum selesai di karenakan gue sendiri masih buntu. Nah, dari situlah gue berencana menulis kembali draft ini dan menerbitkannya segera setelah selesai. Di saat ini pun, gue juga baru menyadari bahwa menerbitkan buku itu ternyata mudah, gue juga menyadari bahwa nantinya gue pasti tetap butuh editor untuk mengkoreksi kesalahan ketik dan PUEBI yang ada, dan mungkin saran pengubahan cerita, dari yang gue baca, kebanyakan penerbit tahu apa yang penulis butuhkan, jadi mereka juga ada yang menawarkan jasa editor dan lain-lain.

     Hal tersebutlah yang membuat gue yakin untuk menerbitkan buku di tahun yang sama, karena meskipun gue banyak melakukan kesalahan di buku pertama gue, gue yakin penerbit akan dengan senang hati membantu dan mengarahkan kita yang masih pemula, lagipula ada paket penerbitan buku yang lengkap bahkan hingga cover buku di bantu dalam design, jadi tidaklah berlebihan jikalau gue sebut “Orang yang tak tahu arah sekali pun akan sampai di tempat yang benar jika di pandu oleh orang yang tepat”.

     Orang yang merantau ke kota, tidak tahu apa-apa, tidak tahu jalan, tidak tahu apa pun, jika dia bertemu dengan seseorang dan di bantu dengan benar, dan kemudian hari dia bekerja dengan baik, maka hasil merantaunya tidaklah sia-sia. Seorang pelukis jika di pandu untuk memahat patung, mungkin hasilnya tidak akan sesuai. Apa yang gue maksud? Maksud gue disini adalah penerbit adalah pemandu yang tepat bagi gue yang ingin menerbitkan sebuah buku, jikalau pun gue kebingungan, maka mereka adalah pihak yang telah berpengalaman menangani para penulis amatir seperti gue. Gue yakin gue bukan di tangan yang salah.

     Dengan kodisi gue saat itu yang sudah memiliki ide dan secuil draft untuk cerita novel, kemudian informasi tentang penerbit, maka dari situ gue putuskan untuk membuat resolusi untuk menerbitkan buku.

     Sayangnya memang gue belum siap sepenuhnya.

     Resolusi itu gagal karena banyak hal, salah satu yang terbesar adalah ujian nasional terakhir gue di wajib belajar dua belas tahun dan sebagai angkatan terakhir yang melaksanakannya (meski di tiadakan pada akhirnya, namun di saat yang bersamaan dengan gue membuat resolusi itu, belum ada kabar kepastian di tiadakan atau tidaknya hingga beberapa hari/minggu setelah PSBB di tetapkan). Meskipun begitu, pandemi adalah salah sekian penyebab besar lainnya, pertama kalinya merasakan pandemi, membuat banyak hal tidak stabil, gue bukan tipe orang yang memaksakan, di saat gue sedang tidak ada hasrat untuk menulis, maka gue akan hentikan sementara hingga hasrat itu muncul kembali (bukan kebiasaan yang baik). Draft itu gue tinggalkan bukan hanya karena pandemi dan ujian nasional terakhir, tetapi rangka ceritanya sendiri masih belum jelas, sebagai penulis tentu gue ingin yang terbaik, karena buku ber- ISBN akan tercatat, dan akan tersimpan salinannya di mana-mana.

     Kerangka cerita yang tak pasti, terlalu banyak riset yang harus di pelajari dari fakta-fakta ilmiah, geografis, teori-teori lain yang gue perlukan untuk draft cerita itu serta belajar dari dunia kepenulisan, dan juga waktu terbatas. Jika kita lihat satu tahun sebagai orang yang menulis buku untuk pekerjaannya mungkin adalah waktu yang lebih dari cukup untuk menulis satu buku, tapi tidak bagi gue yang cuma menulis untuk sekedar iseng belaka, di tambah gue menolak memaksakan diri untuk menulis jika sudah mentok sedikit saja, gue rasa mengoceh tentang hal yang tidak jelas di blog adalah hal yang lebih cocok dari sudut pandang pribadi.

     Dengan begitu, tidak perlu menunggu lama, di pertengahan tahun, gue sudah memutuskan membatalkan resolusi tersebut sampai gue mendalami dunia kepenulisan.

     Kenapa gue cerita tentang ini tiba-tiba? Jadi begini, gue menemukan buku lama, sebuah buku permulaan bagi gue, sebuah buku yang menjadi titik mula gue mulai suka menulis, buku yang bisa di bilang sebagai buku diary, buku yang semasa sekolah dulu menjadi penampungan ide dan materi untuk nanti di olah kembali untuk tulisan gue, di dalam buku itu ternyata masih ada bahan-bahan bahasan untuk blog yang tersisa yang belum gue review dan gue jadiin materi di sini. Di buku itu pula gue teringat akan keinginan gue untuk menulis sebuah buku.

     Dan tahun ini gue akan coba untuk konsistensi (Halah kebanyakan omong ntar juga gagal lagi (nahhh mulai dah becandanya wkwk)) mulai tahun ini, sebenernya gue punya jadwal untuk setidaknya, satu bulan satu tulisan, meskipun itu tulisan yang gak jelas sekalipun, untuk di publish ke blog. Permasalahannya, gue emang tipe orang yang kalo nulis sesuatu harus ada sesuatu dulu yang mau dibahas, karena kalo nulis asal nulis rasanya aneh. Dan ya, resolusi tahun ini adalah satu tulisan untuk tiap bulan, dua belas tulisan dalam setahun bukanlah hal yang sulit. Gue yakin bisa, terakhir kali gue hiatus sebenernya karena lagi banyak kerjaan yang menguras tenaga, tapi setelah gak banyak kerjaan, malah jadi gak banyak materi yang bisa di bahas atau lebih tepatnya gak ada materi yang meanrik bagi gue untuk di bahas di sini, dan ada beberapa kejadian lainnya sih, tapi yasudahlah.

     Tulisan ini gak akan di hitung, gue akan mulai membangkitkan materi lama dari buku yang gue temui kembali, maka dengan ini, dua belas tulisan setelah postingan ini di publish, adalah saksi dan hasil konsistensi gue.

     Gue juga mengajak kalian untuk bersama memulai hal yang mungkin dulu pernah terkubur, karena kesempatan kedua itu benar adanya.

Gaada kata-kata mutiara di ending, di atas udah tadi, yang “bakat yang tepat akan bersinar di tempat yang tepat”

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x