Semua Bisa, Kalo…

      Ada suatu hal yang pengen gue bahas, tentang bagaimana kita (manusia) gak bisa melakukan semua sendiri, kita gak bisa melakukan hal lain, kalo hal yang kita kerjakan sendiri itu masih banyak, ini muncul di pikiran gue udah cukup lama, tapi belakangan ini terus-terusan ada di depan mata gue sendiri, dan gue akan membahasnya.

      Tulisan ini gue buat untuk kita berpikir tentang hal yang akan gue bahas, tulisan ini gue buat bukan untuk menggolong-golongkan orang atau kelompok atau lainnya, tulisan ini gue buat agar kita saling menyadari bahwa tiap manusia itu spesial, tiada yang sama satu sama lain, kembar sekalipun bukan menjadi patokan adanya manusia yang sama. Jika ada hal yang tidak kalian suka dari blog ini, cukup lewati saja, tidak perlu repot mengurusi hal yang buruk, ambil yang baik, tulisan ini gue buat sebagai curahan hati.

      Pandemi. Sebuah wabah yang meluas atau wabah global yang kita sama-sama tahu satu tahun kebelakang ini hadir menemani kita. Tanpa kepastian kapan pandemi ini akan berakhi,r beberapa negara yang sudah terlalu lama me-lockdown atau karantina wilayah meregulasi peraturan tentang kembali beraktivitas di luar rumah. Peraturan ini dibuat dengan berbagai keperluan diantaranya agar roda ekonomi tetap berjalan dan kita bisa tetap sama-sama mengurangi angka penularan.

      Negara kita sedikit berbeda, tak ada karantina wilayah, hanya ada pembatasan sosial berskala besar, yang membuat kita tetap dapat beraktivitas diluar namun dengan beberapa protokol-protokol yang harus di patuhi.

      Singkat cerita, sekarang, Desember 2020, setelah lebih dari setengah tahun kita beraktivitas dalam pembatasan sosial ini, banyak yang mulai lalai dan acuh tak acuh pada protokol yang ada.

      Di sini gue hanya akan langsung ke poinnya setelah prolog yang gue tulis diatas, kita (manusia) lalai bukan karena tidak peduli, kita lalai karena setiap manusia memiliki keadaan ekonomi atau lingkungan atau hal lain yang saling berbeda satu sama lain. Gue juga gak membenarkan orang yang terlalu lalai, gue juga gak membenarkan orang yang terlalu ‘parno’ terhadap pandemi, tapi gue juga gak menyalahkan, gue ingin tulisan ini di jadikan renungan bahwa jika seseorang tidak sesuai dengan sesuatu yang biasanya ada di sekitar kita, itu bukan berarti dia adalah yang terburuk bukan berarti dia yang lebih baik, enggak, tiap orang punya pekerjaan yang berbeda, tiap orang punya keluarga yang berbeda, tiap orang punya ekonomi yang berbeda, tiap orang punya relasi yang berbeda, gak semua bisa di sama ratakan.

      Pekerjaan gue membuat gue bisa leluasa melihat semua perbedaan yang ada di dekat gue, gue bisa melihat situasi ruangan kantor saat sibuk-sibuknya, gue bisa melihat kondisi ruangan seseorang dengan pangkat yang tinggi di kantor itu, gue bisa melihat kondisi seorang supir saat di jalan, gue bisa melihat kondisi pasar tradisional dari malam ke pagi hari, gue bisa melihat para supir ojek online di jalan atau pangkalannya, gue bisa melihat bagaimana perbedaan perilaku tiap orang yang berinteraksi dengan sesuatu. Mulai dari rumah biasa, kecil namun padat, luas dan megah, pekerjaan gue membuat gue bisa melihat semuanya dan membandingkan satu sama lain, hal ini yang buat gue bersyukur karena gue jadi lebih bisa memahami setiap orang dan bisa saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

      Ini yang membuat gue sadar bahwa semakin baik kondisi ekonomi, kita akan lebih mudah mentaati peraturan yang ada, gini, ada sebuah postingan tentang berpergian disaat pandemi, dan kalian tahu? Menurut gue sangat terkesan ‘parno’ dan postingannya pun mengakui bahwa “Gak apa apa terkesan parno yang penting kita terlindungi”, dan tahu apa yang gue temukan? Rata-rata orang yang menjawab ini, mereka mampu pulang pergi untuk sebuah liburan beberapa hari dengan pesawat terbang. Bukan berarti gue langsung memukul rata bahwa semua orang ini parno, “oh mereka mampu naik pesawat cuma buat liburan, semua orang ini pasti ekonominya bagus”, enggak, udah gue bilang tadi “rata-rata” gak semua, dan emang ada hal lain yang bikin gue yakin bahwa keadaan ekonomi akan membuat kita semakin mudah mentaati peraturan, gue pernah naik mobil bak yang di pesan dari sebuah ojek online, gue tau kondisi di dalam mobiilnya gimana, yang kemudian gue juga pernah menaiki mobil box yang dimana supir ini bekerja di sebuah perusahaan besar, keduanya sama-sama mobil pengangkut barang, kondisi dari dua mobil ini, nih gue kasih tau, berbeda sepenuhnya, sampe perlakuan dan perilaku supir di jalan dan ke gue itu beda semua, dan yang pasti ini sama-sama terjadi di masa pandemi. Yang satu bisa dibilang cukup lalai dan acuh tak acuh terhadap rambu-rambu lalu lintas dan protokol kesehatan, sedangkan yang satu lagi, cukup patuh dengan peraturan hingga protokol kesehatan, yang di buktikan hal kecil aja, salah satunya, setelah memberikan uang parkir, dia sesegera mungkin menyemprotkan hand sanitizer yang bahkan di alokasikan dananya untuk setiap mobil dari perusahaannya itu, perilaku mereka di jalan juga beda, gak perlu gue jelasin, intinya yang perlu kalian tau, beda.

      Dan lagi, gue akhirnya jalan-jalan di dalam mall, karena kebutuhan pekerjaan, yang mall-nya ini bisa di bilang kawasan “elite” gue juga gak ngerti maksud pasti dari kata elite itu gimana, tapi yang jelas kita sama sama paham lah ya, di sana pengunjungnya itu bukan main taat sama protokol kesehatan, kalo mau tau cara mastiinnya gimana? Cukup liat masker mereka aja, maskernya pokoknya beda, entah ada merk atau ada lapisan khusus, yang jelas beda. Itu cuma salah satu cara mengetahuinya aja, masih banyak yang bisa kita lihat dengan jelas seberapa taatnya mereka pada protokol kesehatan. Terlihat sangat jelas perbedaan saat gue mulai mampir ke sebuah mini market hingga pasar tradisional, biasanya di mini market, ada banyak jenis orang, sehingga protokol hanya sekedar untuk di patuhi, tidak semua mematuhi protokol dengan ‘kualitas tinggi’, gue petikin karena gue juga gak yakin maksudnya kualitas tinggi sendiri itu apa, yang jelas selama protokol ada, semua normal. Namun di pasar tradisional, 180 derajat beda, kebanyakan lalai sama protokol, boro-boro hand sanitizer, masker aja ada yang cuma ngegantung dileher aja, petugas ada, kalo ada petugas lebih tertib, gue liat sendiri, petugas dateng mereka teep santai aja masker masih di lepas begitu, tapi apa? Mereka sehat-sehat aja, belum pernah kasusnya ampe ada yang geletak tengah jalan, mungkin ada yang bersin batuk, tapi kayaknya emang gara-gara minum es itu tuh pasti, entah karena emang imun mereka udah terlalu tebel sampe-sampe korona juga gak tembus atau gimana, ya gimana enggak, debu, ujan-ujanan, panas-panasan tetep di pasar kerja, imunnya pasti terlatih, tapi gue juga gak membenarkan itu, gue takut ada yang ke pasar saat imunnya lemah dan kena disana, jadi gak bisa dibenerin juga karena gak semua punya imun yang sama. Kadang gue juga kasian sama yang udah usia renta masih harus ke pasar dan pake masker tebel begitu, gue paham pasti lebih sesak karena butuh tenaga lebih dari biasanya untuk narik udara masuk ke paru-paru, tau darimana? Keluarga gue sendiri, ada pengidap asma di keluarga gue, dan ya dia pernah nahan make masker kok, dan pusing hasilnya, usianya udah cukup senja, pengidap asma, make masker, itu bikin makin capek, kita sama-sama tahu bahwa masker yang baik itu, kalo saat kita tarik nafas, terasa berat karena udara ngantri masuk tuh dari lubang yang udah di filter, makin enteng dan terasa dingin atau terasa aliran udara di pipi namanya bocor itu, udaranya nyari celah kayak embber bocorr, yang jelas gak efektif. Jadi untuk sekedar make masker bagi pengidap asma, itu udah tantangan.

      Itu semua hasil dari pengamatan gue, apa yang bisa di simpulkan? Peraturan akan susah di tertibkan kalau kebutuhan pokok kita sendiri kurang, susah di tertibkan kalo kita sendiri masih punya kebutuhan khusus, susah untuk tertib kalo kondisinya aja gak memungkinkan. Gimana caranya mau semprot hand sanitizer kalo uang buat beli beras untuk makan aja kembaliannya sedikit banget. Gue bisa liat kok daftar belanjaan orang-orang yang menengah ke atas ekonominya, beda sama orang yang lebih langganan belanja di pasar tradisional, semisal mereka milih berdasarkan merk, tekstur atau lainnya segala macem lah, tapi ada kok orang yang milih harga terendah atau bahkan ambil yang seadanya di tempat aja. Kita gak bisa menyalahkan atau membenarkan satu sama lain, kita gak tau gimana latar belakang orang ini bisa sampe di titik itu, kita gak bisa asal menghakimi terus pukul rata aja, gue juga kenal orang yang bisa sampe di kondisi di mana makan gak liat harga, asal menu favoritnya ada, dia bakalan pesen itu berapapun harganya, dia itu kondisinya emang beda dulu dan sekarang.

      Ada juga sebuah film yang gue udah lupa judulnya, yang inti dari ceritanya itu, orang yang berusaha dari titik rendah hingga berhasil sampai hampir di puncak kejayaan. Disini gue bisa liat perbedaan antara titik rendah dan titik puncak itu emang berbeda, mengikuti peraturan itu mudah kalo kebutuhannya udah tercukupi, jadi mereka gak perlu mikir soal ini itu, dan bisa fokus menjadi masyarakat yang baik.

      Semua manusia terlahir berbeda, namun tidak semua manusia mendapat perlakuan sesuai kebutuhannya, dia yang beradaptasi hingga berhasil, bisa saja menahan hal-hal yang bukan seharusnya ada di dirinya, dan menjadi sama dengan sekitarnya namun tetap berada di garis start yang berbeda. Ada yang terbangun di pagi buta saat mentari belum tampak untuk segera memulai aktivitas agar tidak tertinggal dari garis start. Ada yang memiliki garis start lebih jauh di depan yang lain namun memiliki keterbatasan yang membuatnya tetap harus mengeluarkan keringat yang sama banyaknya dengan yang lain atau bahkan lebih.

      Sering ada celetukan, “Sabar, tangan gue cuma dua!” sekarang gue ngerti maksudnya, karena emang kita, gabisa melakukan semuanya sekaligus. Sambil menyelam minum air mungkin udah lumrah, tapi kalo udah menyelam minum air sambil masak mie, nyuci baju, squat 30x, lari 20 km, ngerjain soal ujian semester, benerin spion, nyisir rambut, ya mana bisa

Gambar nyomot gugel

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x