Kutulis Namamu

      Malam ini terasa sedikit dingin dari biasanya, mungkin karena sejak sore hujan, membuat udara lebih lembab dari biasanya. Kududuk terdiam diatas kasur dan bersandar di tembok, menatap ke luar jendela, hanya sekedar berdiam dan melihat tiap tetesan air yang turun dari atas dan menikmati suara gemericik air di luar sana.

Ya ampun, tiap kaliku pikirkan dirinya, semakin gelisah kudibuatnya, sudah lebih dari tiga tahun aku tak bertemu dengannya, rindu ini hanya kian bertambah, semakin ingin bersama dengannya lagi. Rintik hujan ini mengingatkanku saat kita berdua duduk di teras kemudian hanya sekedar berbincang berdua bersamanya, sambil menatapi percikan air di depan mata, menggenggam tangannya, membahas apapun yang terlintas di kepala dan menikmati waktu bersama.

Memikirkan waktu bersama dengannya hanya membuatku semakin ragu, “Apakah aku dapat kembali bersamanya?”, pertanyaan yang kerap kali muncul saatku membayangkan masa-masa dengannya dulu, tiap kaliku memikirkan jawaban pertanyaannya, aku hanya terdiam merenung, tak dapat menemukan jawabannya, dan hanya membuatku semakin gelisah tiap waktunya.

Malam semakin larut, aku tak tahu waktu sudah sejauh apa, hanya merasakan hawa yang semakin damai ini, membuatku yakin sekarang sudah tengah malam. Kuraih buku di atas meja di sebelah tempat tidur, berdiri dan menarik kursi di depan meja kayu yang biasa kugunakan untuk menulis, kemudian duduk dan menyalakan lampu tambahan untuk membaca, kubuka lembar yang kemarin kutulis, kubaca perlahan tentang apa yang kutulis hari itu. Lembar demi lembar, tiada bosan kuperhatikan kata demi kata yang mencurahkan isi hati kusaat itu.

Hingga perasaan itu datang kembali, kukembali mengambil pena dan mulai mencurahkan semuanya dalam tulisan. Kutuliskan semua yang kurasakan, tentang bagaimana hari kuberlalu, ke arah mana pikiranku menuju, hingga akhirnya semua telah tercurahkan dan kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan segalanya.

Kuterpaku, mengetuk pena berulang kali di atas buku, dan hanya satu hal yang dapat kupikirkan, menuliskan namanya dengan indah di lembaran buku ini.

Kuarahkan pena ke lembaran baru, menyalurkan seluruh yang kurasakan pada pena, berharap agar namanya dapat tertulis indah di buku ini.

Perasaan apa ini? Sesaat setelah selesai menuliskan namanya, ada sesuatu yang belum pernah kurasakan.

Kembali kutulis namanya, kali ini aku merasa sedikit sakit di kepala, seolah kesadaranku akan hilang, apakah ini karena rasa kantukku?

     Saat kali ketiga kutulis namanya, hal pertama yang ku ingat setelah itu, aku terbangun menatap langit-langit kamar berwarna putih di sebuah tempat tidur yang cukup besar untuk dua orang. Aku tidak ingat jika semalam aku tertidur, jikalaupun aku tertidur seharusnya aku sekarang ada di meja, siapa yang memindahkanku? Tapi semua itu tak kupertanyakan setelah sadar bahwa ini bahkan bukan tempat tidurku.

Kamar ini bukan kamarku, aku cukup familiar dengan kamar ini, tapi ini jelas bukan kamarku. Kuangkat tubuhku dan terduduk diam sambil memperhatikan sekeliling.

Kamar ini, ya … aku mengenalinya. Tapi ini bukan kamarku, di mana aku sebenarnya?

Pandanganku langsung teralihkan pada sebuah cermin yang cukup besar yang ada di kamar itu, kuterkejut saat melihat diriku di depan cermin.

Tunggu, itu aku? Sejak kapan aku menumbuhkan janggut? tanganku langsung meraba wajahku sendiri sambil terus menatapi cermin.

Tak sempat memahami apa yang terjadi, ku mendengar suara seorang anak kecil dari luar kamar, terdengar langkah kaki kecilnya semakin mendekat.

“Papa …, papa …”

Tunggu, apa?

“Papa…”

Seorang anak perempuan yang terlihat manis sekali

“Papa”

Anak itu masuk ke dalam kamar sambil terus mengulangi kata-kata yang sama, dia menghampiriku

“Papa …”

Nada suaranya seperti ia meminta sesuatu dariku

“Papaaa…”

Tangannya menarik pakaianku, sepertinya ia ingin aku menemaninya kesuatu tempat, mulutku tetap terdiam meski aku ingin mengatakan sesuatu namun sejujurnya aku tidak tahu apa yang terjadi disini, untuk saat ini aku hanya akan mengikuti anak ini.

Dia membawaku keluar rumah, angin bertiup cukup kencang sesaat setelahku melangkahkan kakiku di atas pasir pantai. Rumah ini berada tepat di pinggir pantai, pemandangan yang cukup indah untuk sebuah tempat tinggal. Kupandangi sekitar, tak ada orang lain, tak ada bangunan lain di dekat sini, hanya pasir putih yang membentang sepanjang pantai.

Anak ini terus menggenggam pakaianku sambil berjalan membawaku entah kemana, suara ombak dan burung camar terasa sangat damai di pagi seperti ini, cuaca yang tidak terlalu terik di tambah suasana yang nyaman seperti ini membuatku tak lagi memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Kita meninggalkan pantai?

Anak itu membawaku sedikit menjauhi pantai, kakiku tak lagi menginjak butiran pasir putih, namun beralih menjadi tanah yang sedikit berumput

Apakah itu … sebuah makam?

Kumelihat sebuah batu yang cukup besar dan berada di sebuah tanah yang sedikit meninggi dari sekitarnya, sudah jelas itu sebuah makam, tapi kenapa dia membawaku kesini?

Oh tidak, tidak mungkin

Anak ini berhenti tepat di samping makam, dan terdiam menatapinya. Perhatianku terfokus pada nama yang tertulis disana, dan aku benar-benar tidak dapat mempercayai ini

Tidak, tidak, tidak

Kedua kakiku terasa lemas, ku bertekuk lutut di samping makam itu dan menutupi sebagian wajahku dengan kedua tangan

“Papa?”

Aku tidak percaya ini,

Namanya …

… Tertulis diatas batu ini

THE END

 

Alternate ending

Dia membawaku keluar rumah, angin bertiup cukup kencang sesaat setelahku melangkahkan kakiku di atas pasir pantai. Rumah ini berada tepat di pinggir pantai, pemandangan yang cukup indah untuk sebuah tempat tinggal. Kupandangi sekitar, tak ada orang lain, tak ada bangunan lain di dekat sini, hanya pasir putih yang membentang sepanjang pantai.

Anak ini terus menggenggam pakaianku sambil berjalan membawaku entah kemana, suara ombak dan burung camar terasa sangat damai di pagi seperti ini, cuaca yang tidak terlalu terik di tambah suasana yang nyaman seperti ini membuatku tak lagi memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Siapa itu?

Kumelihat seseorang, duduk di atas tikar di bawah payung di tepi pantai pasir putih ini, sepertinya seorang wanita

“Mama!!!”

Anak itu melepas genggamannya, dan berlari menuju wanita itu, langkahku sedikit melambat

Tunggu, mama?

Wanita itu berdiri, menoleh kearah anak itu, dan mengangkat anak itu setelah ia menghampirinya dan memeluknya dengan erat

Aku, A… Aku tidak percaya ini

Langkahku perlahan semakin cepat

“Hey, tukang tidur, kau ingin bergabung atau tidak?”

Aku benar-benar tidak percaya ini

Aku berlari menuju arahnya, dan langsung memeluknya erat

“Hey, ada apa denganmu?”

“Mama, papa kenapa?”

“Entahlah, hey, lihat itu, rumah pohonmu sudah selesai, pergilah dan lihat sendiri”

“Hey, ada apa denganmu sayangku? Bermimpi buruk lagi?”

“Ini benar-benar dirimu kan? Maksudku ini benar-benar kamu bukan?”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti”

“Tidak, bukan apa-apa, jika ini memang dirimu, aku tidak perlu bertanya apapun, aku benar-benar bahagia!”

THE END

Mencoba genre roman pertama kali itu sulit juga ya guys, gue gak jago-jago amat ngarang cerita romansa wkwk, ya apapun itu nikmati lah ya…

Gambar di buat dengan deepai.org, dengan prompt “Girl with dress in the beach walking away” & preset fantasy world

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x